Bismillahirrahmanirrahiim...
Setiap
manusia diperintahkan untuk mengerjakan amal shaleh dengan hati ikhlas,
dan hanya mengharap ridho dari Allah semata. Karena amal shaleh yang
dilakukan hanya untuk Allah semata akan mampu membebaskan kita dari
murkaNya, insya Allah. Sedangkan amal shaleh yang dilakukan tidak karena
mengharap ridho Allah SWT, maka amal tersebut tiada gunanya dihadapan
Allah.
Ada sebuah kisah yang sangat menarik, yang menceritakan tentang amal-amal shaleh yang dibawa malaikat ke hadapan Allah:
Ibnu
Mubarak bercerita bahwa Khalid bin Ma'dan berkata kepada Mu'adz, "Mohon
Tuan ceritakan hadits Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam yang Tuan
hafal dan yang Tuan anggap paling berkesan. Hadits manakah menurut Tuan?
Jawab Mu'adz, "Baiklah, akan kuceritakan."
Selanjutnya,
sebelum bercerita, beliau pun menangis. Beliau berkata, "Hmm, Betapa
rindunya diriku pada Rasulullah, ingin rasanya diriku segera bertemu
dengan beliau."
Kata beliau selanjutnya, "Tatkala
aku menghadap Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, beliau menunggang
unta dan menyuruhku agar naik di belakang beliau. Kemudian berangkatlah
kami dengan berkendaraan unta itu. Selanjutnya beliau menengadah ke
langit dan bersabda:
Puji syukur ke hadirat Allah Yang Berkehendak atas makhluk-Nya, ya Mu'adz!
Jawabku, "Ya Sayyidi l-Mursalin"
Beliau
kemudian berkata, 'Sekarang aku akan mengisahkan satu cerita kepadamu.
Apabila engkau menghafalnya, cerita itu akan sangat berguna bagimu.
Tetapi jika kau menganggapnya remeh, maka kelak di hadapan Allah, engkau
pun tidak akan mempunyai hujjah (argumen).
Hai
Mu'adz! Sebelum menciptakan langit dan bumi, Allah telah menciptakan
tujuh malaikat. Pada setiap langit terdapat seorang malaikat penjaga
pintunya. Setiap pintu langit dijaga oleh seorang malaikat, menurut
derajat pintu itu dan keagungannya.
Dengan
demikian, malaikat pula-lah yang memelihara amal si hamba. Suatu saat
sang Malaikat pencatat membawa amalan sang hamba ke langit dengan
kemilau cahaya bak matahari.
Sesampainya pada
langit tingkat pertama, malaikat Hafadzah memuji amalan-amalan itu.
Tetapi setibanya pada pintu langit pertama, malaikat penjaga berkata
kepada malaikat Hafadzah:
"Tamparkan amal ini ke
muka pemiliknya. Aku adalah penjaga orang-orang yang suka mengumpat. Aku
diperintahkan agar menolak amalan orang yang suka mengumpat. Aku tidak
mengizinkan ia melewatiku untuk mencapai langit berikutnya!"
Keesokan
harinya, kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal shaleh
yang berkilau, yang menurut malaikat Hafadzah sangat banyak dan terpuji.
Sesampainya
di langit kedua (ia lolos dari langit pertama, sebab pemiliknya bukan
pengumpat), penjaga langit kedua berkata, "Berhenti, dan tamparkan
amalan itu ke muka pemiliknya. Sebab ia beramal dengan mengharap dunia.
Allah memerintahkan aku agar amalan ini tidak sampai ke langit
berikutnya."
Maka para malaikat pun melaknat orang itu.
Di
hari berikutnya, kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa
amalan seorang hamba yang sangat memuaskan, penuh sedekah, puasa, dan
berbagai kebaikan, yang oleh malaikat Hafadzah dianggap sangat mulia dan
terpuji. Sesampainya di langit ketiga, malaikat penjaga berkata:
"Berhenti!
Tamparkan amal itu ke wajah pemiliknya. Aku malaikat penjaga kibr
(sombong). Allah memerintahkanku agar amalan semacam ini tidak pintuku
dan tidak sampai pada langit berikutnya. Itu karena salahnya sendiri, ia
takabbur di dalam majlis."
Singkat kata, malaikat
Hafadzah pun naik ke langit membawa amal hamba lainnya. Amalan itu
bersifat bak bintang kejora, mengeluarkan suara gemuruh, penuh dengan
tasbih, puasa, shalat, ibadah haji, dan umrah. Sesampainya pada langit
keempat, malaikat penjaga langit berkata:
"Berhenti!
Popokkan amal itu ke wajah pemiliknya. Aku adalah malaikat penjaga
'ujub (rasa bangga terhadap kehebatan diri sendiri) . Allah
memerintahkanku agar amal ini tidak melewatiku. Sebab amalnya selalu
disertai 'ujub."
Kembali malaikat Hafadzah naik ke
langit membawa amal hamba yang lain. Amalan itu sangat baik dan mulia,
jihad, ibadah haji, ibadah umrah, sehingga berkilauan bak matahari.
Sesampainya pada langit kelima, malaikat penjaga mengatakan:
"Aku
malaikat penjaga sifat hasud(dengki). Meskipun amalannya bagus, tetapi
ia suka hasud kepada orang lain yang mendapat kenikmatan Allah swt.
Berarti ia membenci yang meridhai, yakni Allah. Aku diperintahkan Allah
agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku."
Lagi,
malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal seorang hamba. Ia membawa
amalan berupa wudhu' yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji,
dan umrah. Sesampai di langit keenam, malaikat penjaga berkata:
"Aku
malaikat penjaga rahmat. Amal yang kelihatan bagus ini tamparkan ke
mukanya. Selama hidup ia tidak pernah mengasihani orang lain, bahkan
apabila ada orang ditimpa musibah ia merasa senang. Aku diperintahkan
Allah agar amal ini tidak melewatiku, dan agar tidak sampai ke langit
berikutnya."
Kembali malaikat Hafadzah naik ke
langit. Dan kali ini adalah langit ke tujuh. Ia membawa amalan yang tak
kalah baik dari yang lalu. Seperti sedekah, puasa, shalat, jihad, dan
wara'. Suaranya pun menggeledek bagaikan petir menyambar-nyambar,
cahayanya bak kilat. Tetapi sesampai pada langit ke tujuh, malaikat
penjaga berkata:
"Aku malaikat penjaga sum'at
(sifat ingin terkenal). Sesungguhnya pemilik amal ini menginginkan
ketenaran dalam setiap perkumpulan, menginginkan derajat tinggi di kala
berkumpul dengan kawan sebaya, ingin mendapatkan pengaruh dari para
pemimpin. Aku diperintahkan Allah agar amal ini tidak melewatiku dan
sampai kepada yang lain. Sebab ibadah yang tidak karena Allah adalah
riya. Allah tidak menerima ibadah orang-orang yang riya."
Kemudian
malaikat Hafadzah naik lagi ke langit membawa amal dan ibadah seorang
hamba berupa shalat, puasa, haji, umrah, ahlak mulia, pendiam, suka
berdzikir kepada Allah. Dengan diiringi para malaikat, malaikat Hafadzah
sampai ke langit ketujuh hingga menembus hijab-hijab (tabir) dan
sampailah di hadapan Allah. Para malaikat itu berdiri di hadapan Allah.
Semua malaikat menyaksikan amal ibadah itu shahih, dan diikhlaskan
karena Allah.
Kemudian Allah berfirman:
"Hai
Hafadzah, malaikat pencatat amal hamba-Ku, Aku-lah Yang Mengetahui isi
hatinya. Ia beramal bukan untuk Aku, tatapi diperuntukkan bagi selain
Aku, bukan diniatkan dan diikhlaskan untuk- Ku. Aku lebih mengetahui
daripada kalian. Aku laknat mereka yang telah menipu orang lain dan juga
menipu kalian (para malaikat Hafadzah). Tetapi Aku tidak tertipu
olehnya. Aku-lah Yang Maha Mengetahui hal-hal gaib. Aku mengetahui
segala isi hatinya, dan yang samar tidaklah samar bagi-Ku. Setiap yang
tersembunyi tidaklah tersembunyi bagi-Ku. Pengetahuan-Ku atas segala
sesuatu yang telah terjadi sama dengan pengetahuan-Ku atas segala
sesuatu yang belum terjadi. Pengetahuan-Ku atas segala sesuatu yang
telah lewat sama dengan yang akan datang. Pengetahuan-Ku atas segala
yang telah lewat sama dengan yang akan datang.
Pengetahuan-Ku atas orang-orang terdahulu sama dengan pengetahuan-Ku atas orang-orang kemudian.
Aku
lebih mengetahui atas sesuatu yang samar dan rahasia. Bagaimana
hamba-Ku dapat menipu dengan amalnya. Mereka mungkin dapat menipu sesama
makhluk, tetapi Aku Yang Mengetahui hal-hal yang gaib. Aku tetap
melaknatnya...!"
Tujuh malaikat di antara tiga ribu malaikat berkata, "Ya Tuhan, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami atas mereka."
Kemudian semua yang berada di langit mengucapkan, "Tetaplah laknat Allah kepadanya, dan laknatnya orang-orang yang melaknat."'
Sayyidina
Mu'adz kemudian menangis tersedu-sedu. Selanjutnya berkata, "Ya
Rasulallah, bagaimana aku bisa selamat dari semua yang baru engkau
ceritakan itu?"
Jawab Rasulullah, "Hai Mu'adz, ikutilah Nabimu dalam masalah keyakinan."
Tanyaku
(Mu'adz), "Engkau adalah Rasulullah, sedang aku hanyalah Mu'adz bin
Jabal. Bagaimana aku bisa selamat dan terlepas dari bahaya tersebut?"
Berkatalah
Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam, "Memang begitulah, bila ada
kelengahan dalam amal ibadahmu. Karena itu, jagalah mulutmu jangan
sampai menjelekkan orang lain, terutama kepada sesama ulama. Ingatlah
diri sendiri tatkala hendak menjelekkan orang lain, sehingga sadar bahwa
dirimu pun penuh aib. Jangan menutupi kekurangan dan kesalahanmu dengan
menjelekkan orang lain. Janganlah mengorbitkan dirimu dengan menekan
dan menjatuhkan orang lain. Jangan riya dalam beramal, dan jangan
mementingkan dunia dengan mengabaikan akhirat. Jangan bersikap kasar di
dalam majlis agar orang takut dengan keburukan akhlakmu. Jangan suka
mengungkit-ungkit kebaikan, dan jangan menghancurkan pribadi orang lain,
kelak engkau akan dirobek-robek dan dihancurkan anjing Jahannam,
sebagaiman firman Allah dalam surat An-Naziat ayat 2."
Tanyaku selanjutnya, "Ya Rasulallah, siapakah yang bakal menanggung penderitaan seberat itu?"
Jawab
Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam, "Mu'adz, yang aku ceritakan
tadi akan mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah. Engkau harus
mencintai orang lain sebagaimana engkau menyayangi dirimu. Dan bencilah
terhadap suatu hal sebagaimana kau benci bila itu menimpa dirimu. Jika
demikian engkau akan selamat."
Sumber: Al Ghazali, Minhajul Abidin, dan Bidayatul Hidayah